Popular posts from this blog
el amor falso
ilustrasi, Rully Sabhara Herman Cinta. Padanya, jiwa kita larut. Hati kita hanyut. Pelbagai macam rasa kerap hinggap, dan berkedut. Kadang rasa cemas yang membuncah, cemburu yang menghantu, atau juga rindu yang membiru. Rasa seperti ini menjadi hal rutin yang hadir. Hadir melingkup otak kiri kanan kita, mengatup sisi jantung yang berdegup, yang dengannya kita menjadi hilang akal untuk mencernanya. Serta merta pula kita mesti larut dengan apa yang menjadi rasa. Cinta adalah nyata, tapi kadang juga jadi tak benar-benar nyata. Cinta bukan barang ganjil. Genap adalah adanya, sebab cinta membutuhkan sepasang benda untuk bertaut. Sepasang. Berpasang, hingga kemudian ketika cinta tersemat lekat, kita menyebut sepasang itu sebagai pasangan. Pasangan, yang keduanya saling cinta mencintai.
Agnosia Akut
doc. Rully Sabhara Herman
Sebab. Ingin jauh. Dari sesuatu yang tak utuh. Sesuatu yang ketika kau raba, ia berupa helaan angin saja. Sesuatu yang ketika kau tatap ia berwujud bayang semu. Aku ingin jauh. Darinya, juga dari keberadaan adanya. Aku punya sebab. Ketika orang-orang khidmat meratapi kampung yang tak pernah beruntung. Aku bergelut dengan sesuatu yang menyerupai kata bingung. Adalah detak jantung, berdegup-degup busung. Perut yang mengikut busung, ketika daya khayal mengering akibat rupa musim yang buruk. Kutuk. Saat itu, apapun yang berlaku; kampung seperti ditakdir untuk tak boleh beruntung. Kota juga. Kota ramai-ramai batuk serupa serangan wabah mengutuk. Sedang rakyat melarat. Seamsal ulat. Melata dan meyayat. Aku ikut pula dalam perkara begini rupa. Aku adalah atom terkecil dari kata rakyat.

Comments
Post a Comment