Posts

Wisata Greenland Jantho Aceh Besar

Image
Zaman   gadget   yang semakin membuat dunia semakin mengecil sekepalan tangan, mengabarkan Aceh kepada dunia hingga ke pelbagai sudut terpencil sekalipun, sudah segampang   ngupil.   Itu sebabnya, barangkali   Aceh Blogger Gathering   2015   yang diselenggarakan Aceh Blogger Community dengan sokongan Dinas Kebudayaan & Pariwisata (Disbudpar) Aceh, mengusung tema; "Ayo, Menulis Aceh di Internet." Ini acara diselenggarakan di salah satu destinasi   wisata Aceh  di Greenland Jantho selama dua hari, 5-6 Desember 2015.  Sebagaimana namanya Wisata Greenland Aceh Besar, terletak sekitar 20 menit dari Jantho, ibukota Kabupaten Aceh Besar, adalah salah satu destinasi yang sangat cocok bagi wisatawan yang tertarik pada view pegunungan. Terletak di kaki pegunungan Bukit Barisan, dengan view puncak Seulawah di sebelah selatannya tempat ini menjanjikan suatu pengalaman menyatu dengan alam bagi wisatawan setiba berkunjung di sini. Ditamb...

Maop, Smartphone & Anak yang Baru Dilahirkannya Bernama Kaos Maop

Image
Sumber Foto: Akun fb Maop Bagi pemakai smartphone macam merek sejagat Aceh yang dengannya mereka aktif di dunia media sosial (medsos) --serupa fesbuk, twitter, instagram, dan lain sebagainya-- mengenal, mengikuti, berteman, dengan akun Muhadzier Maop adalah niscaya, jika tidak ingin dibilang wajib. Kenapa? Sebab dialah seorang pemuda yang tekun dan sabar berbicara isu-isu sosial Aceh khususnya isu tingginya mahar sebagian besar perempuan Aceh melalui pelbagai media tersebut.  Menghabiskan waktu selama hampir 15 jam dalam sehari hanya untuk ngetwit, ngelike, bikin dan upload meme, update status, balas pesan, komentar sana-sini, bukanlah pekerjaan gampang. Dan itu membutuhkan kesabaran tingkat tinggi yang kita yakin tidak akan bisa ditandingi oleh seorang sufi mana pun. Pokoknya, maqam ini pemuda dalam bereksistensi di medsos sama sekali tak tertandingi oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi jangan sangka ia sudah tidak menginjak tanah lagi. Selagi memegang smar...

Mereka yang Menggugat Jakarta

Image
Sumber: TerasSore Komunitas Kanot Bu "Berbicara Indonesia adalah bicara bagaimana menyambung jilbab dengan koteka. Bagaimana menyambung jilbab dengan koteka? Saya juga tidak tahu. Tapi barangkali seni bisa melakukannya," kata Putra Hidayatullah pertengahan Juni lalu. Putra Hidayatullah adalah seorang cerpenis Aceh, bergiat di Komunitas Tikar Pandan, yang sekarang sedang sibuk di perhelatan Jakarta Biennale 2015 di Jakarta. Di gelaran acara dua tahunan itu, ia terpilih sebagai kurator muda mewakili Aceh. Yang dengannya ia diberi kewenangan mengikutsertakan empat seniman daerah untuk menampilkan karya mereka bersama seniman-seniman lintas daerah dan sibuju nanggroe di dunia.  Seperti dirilis di situs resmi Jakarta Biennale 2015, seniman-seniman yang ikut di ajang bertema "Maju Kena, Mundur Kena; Bertindak Sekarang", berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Bali, Aceh, Makassar, Argentina, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Taiwan, Jepang, Tu...

Acara TerasSore di Komunitas Kanot Bu & Pertanyaan-pertanyaan yang Muncul Karenanya

Image
Bivak Emperom, basecamp Komunitas Kanot Bu. Foto: Fajri Ben Ishak TerasSore adalah nama sebuah acara yang mengusung  tagline; diskusi, kopi dan akustik . Sesuai  tagline -nya, acara ini berupa diskusi rutin anak muda lintas hobi yang dipandu oleh seorang host tetap dengan menghadirkan pembicara untuk mengulik sesuatu topik, yang di sela-selanya para peserta bisa ngopi bareng sambil mendengar dan menyaksikan penampilan musik akustik. Topik yang diangkat dalam diskusi beragam. Namun di TerasSore keberagaman itu diuraikan dalam sebuah cara pandang yang sama, yaitu topik-topik yang dipilih direspon oleh peserta dan pembicara berdasarkan sudut pandang seni. TerasSore telah digagas dan dilaksanakan saban bulan oleh Komunitas Kanot Bu, sebuah komunitas yang konsen bergerak di jalur seni dan budaya di Banda Aceh. Minggu, 4 Oktober 2015 TerasSore kali keempat mulai sekira pukul 17.09 WIB. Kali ini TerasSore mengangkat isu korupsi sebagai topik diskusinya, dengan tema...

Jalan 32

Image
The Persistence of Memory by Salvador Dali Dunia mengecil, seiring memuainya pikiran oleh pelbagai ilmu pengetahuan. Namun, ingatan telah tercecer satu persatu. Tersemat di ranting kayu, menghilang dibawa angin: entah kemana? Orang-orang dekat datang dan pergi. Ada yang singgah lama, bertukar kabar, berbagi informasi, untuk kemudian pamit setiba di sebuah simpang. Yang hadir sebentar adalah orang-orang yang sedang berjibaku dengan waktu. Bersua kebetulan, pas-pasan di sebuah ruas jalan, senyum tanpa tegur sapa, lantas sibuk pada titik pandang masing-masing. Di jalanan siapa pun tak bisa berhenti seenak hati. Waktu adalah jalanan terpadat yang menuntut semua pengendara harus awas dengan pandangannya.

Cerita Tamat Ganja di Pulo Aceh

Image
MENDUNG berarak cepat memayungi langit Banda Aceh setelah kapal motor (KM) Satria Baro bernomor lambung GT 33 No 279/QQM angkat sauh dari pelabuhan Lampulo. Sesaat KM Satria Baro keluar dari muara Krueng Aceh, hujan turun dengan lebatnya diiringi jilatan kilat. Guyur hujan lebat terlihat serupa tirai raksasa. Banda Aceh dari jauh tak ubahnya seonggok daratan berwarna kusam kelabu. Kesan angker dan misterius semakin terasa saat jilatan kilat yang serupa mata tombak berpijar dengan gempita. Minggu (26/4/2015) lalu, dengan menumpangi KM Satria Baro kami menuju Pulo Aceh. Satu kecamatan di Kabupaten Aceh Besar, yang wilayahnya terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil di sebelah Barat Laut dari Kota Banda Aceh. KM Satria Baro adalah salah satu alat transportasi masyarakat setempat yang hampir setiap hari pulang pergi Pulo Aceh – Banda Aceh. Di Banda Aceh, pelabuhan Lampulo menjadi tempat bersandarnya kapal penumpang menuju ke Pulo Aceh, kecuali ada beberapa di antaranya juga berlabuh di...

'Sumpah Manggabarani', Sebuah Cara Berangus Narkoba di Aceh

Image
doc. bnn-dki.com Di Aceh, narkoba adalah perkara yang tak pernah habis untuk dikupas. Sudah kadung gelisah dengan stigma daerah penghasil ganja—ini saja telah cukup memusingkan kepala—Aceh hari ini berada dalam masa galau akut akibat semakin gencar beredarnya sabu-sabu hingga lam rata jurong gampong (seluruh pelosok kampung) . " Jinoe yang leubeh bahaya lom, aneuk miet ban tamat SD pih ka jiteupeu sabee boh dua limong ngon boh limong ploh. Lheueh nyan ta deungo teuk, itek si Pulan gadoh malam baroe, kameng si Pulen hana meuho bak malam laen. (Sekarang yang lebih bahaya lagi, anak-anak baru tamat SD pun sudah kenal sabu-sabu paket Rp25 ribu dan paket Rp50 ribu. Lantas kita dengarlah, bebek si Pulan hilang malam kemarin, kambing si Pulen dicuri pada malam yang lain), " kata seorang Teungku dalam ceramah peringatan maulid di sebuah kampung Kabupaten Pidie Jaya beberapa bulan lalu.  Pernyataan Teungku tersebut sudah barang tentu bukan bualan belaka. Bahkan Waki...