Hilversum vs Radio Rimba Raya
sebelumnya tulisan ini telah dimuat theatjehpost
Dalam
sejarah perjuangan Indonesia, sudah jelas Serangan Umum 1 Maret 1949 akan tidak
ada jika Belanda tak melancarkan agresi keduanya. Setelah agresi militer jilid
II Belanda berhasil menguasai Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Republik
Indonesia yang baru seumur jagung itu linglung.
Presiden dan
Wakil Presiden dengan segenap pembesar revolusi lainnya ditawan. Saat itu
Indonesia memang benar-benar dalam keadaan rawan.
Untung saja,
walaupun kondisi negara sedang di ujung tanduk, sebelum tentara Belanda belum
sempat masuk; Panglima Besar Soedirman yang dalam keadaan sakit melapor ke
Presiden. Setelah itu ia mengumumkan perintah singkat ke seluruh Indonesia.
Itu pesan di
siar melalui radio saja. Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam
keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
Empat butir
perintah singkat, yaitu: 1. Kita telah diserang, 2. Pada tanggal 19
Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan
terbang Maguwo, 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan
gencatan senjata, 4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang
telah ditetapkan untuk mengahadapi serangan musuh.
Pesan ini
akhirnya sampai juga ke telinga pejuang-pejuang di Aceh. Mereka menyebarkannya
ke segala penjuru. Agar angkatan perang, rakyat yang rela berjuang mesti
siap-siap. Mesti cepat tanggap.
Inti kedua
kawat tersebut untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Agar di
mata dunia, walaupun ibukota Yogyakarta telah diduduki agressor, Republik
Indonesia tetap saja masih ada.
Tapi zaman
perang dipenuhi propaganda. Pada zaman penuh desing peluru itu, Belanda sangat
gencar berpropaganda. Gencar membolak-balikkan haba.
Melalui
siaran radionya, Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau dikenal orang ramai
dengan sebutan Hilversum, berkabar bahwa Indonesia telah tamat. Berita itu
sekejap tersiar setelah angkatan perangnya berhasil menduduki Yogyakarta dan
menawan para pembesar negara. Dunia pun hampir saja percaya.
Di Aceh,
para pejuang bertindak cepat. Serangan melalui media harus dibalas dengan
media. Itu makanya perangkat radio beserta alat pemancarnya, tanggal 20
Desember 1948 diangkut diam-diam. Dari Banda Aceh ke Rime Raya. Kawasan hutan
belantara di dataran Gayo sana.
Hingga dalam
keadaan yang serba genting, Radio Rimba Raya pun buka suara. Ada banyak catatan
berbeda tentang tanggal berapa mulai pertama siarannya. Yang jelas, corongnya
sampai juga ke negara-negara tetangga. Bahkan dengan bantuan relay radio-radio
negara luar, suara Indonesia sampai juga ke negara-negara Eropa.
“Republik
Indonesia masih ada. Karena pemimpin Republik Indonesia masih ada. Tentara
Republik masih ada. Pemerintah republik masih ada. Wilayah republik masih ada.
Dan di sini adalah Aceh.”*
Sampai di
sini, dunia tergugah. Di India, Konferensi Asia untuk membicarakan status
Republik Indonesia digelar dan diikuti 19 negara. Hasilnya? Satu dari sekian
butir-butir konferensi berbunyi: Belanda harus angkat kaki dari tanah Republik
Indonesia.
Zaman itu
Hilversum kalah. Propagandanya tidak mempan membenamkan Indonesia. Radio Rimba
Raya yang letaknya jauh di pedalaman Aceh terus mengudara. Sampai dunia
tergugah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Sekarang,
Radio Rimba Raya hanya ditemukan dalam buku sejarah. Tugunya tegak berdiri.
Tapi siarannya nihil. Sementara Hilversum yang sempat dikalahkan isunya itu
masih saja mengudara dalam media dengar dunia. Jika tak dihidupkan lagi,
mungkin tidak aneh kalau sejarah Radio Rimba Raya hanya akan dianggap mitos
belaka. Tragis betul!
Sumber : berdasarkan bacaan-bacaan buku
sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
- 17/05/2013 9:43 PMSong bogem Pique saat Barca rayakan juara La Liga: Victor Valdes dan Carles Puyol tampak ingin melerai kedua s... http://t.co/WAUVkPxix7
- 17/05/2013 9:43 PM23 Pria Afrika Selatan tewas setelah disunat: Polisi hingga kini belum menangkap tersangka dan masih menunggu ... http://t.co/UcAitgXeDG
- 17/05/2013 9:43 PMHanya 6 item yang diperlombakan di PKA 6: Rapat para kepala dinas kabupaten dan kota se-Aceh, kata dia, digela... http://t.co/kCNUUzncdF
- 17/05/2013 9:43 PMSharapova mundur dari Turnamen Roma Masters?: Sharapova tampil meyakinkan saat dia mengalahkan Sloane Stephens... http://t.co/UTOT4x7PcG
- 17/05/2013 8:56 PMLagi, Pedrosa kuasai Sirkuit Le Mans: Marc Marques mampu memperbaiki catatan waktu hingga mampu menempati posisi dua. http://t.co/P5OKgNisuZ
- 17/05/2013 8:56 PMNexus 4 warna putih muncul bulan depan?: Nexus 4 berwarna putih ini sebelumnya juga pernah muncul menyusul rum... http://t.co/5oqb61A7KK
- 17/05/2013 8:56 PMTiga instansi di Simeulue belum serahkan data kerugian bencana alam: Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kela... http://t.co/OtX0yhrtYK
- 17/05/2013 8:56 PMDua unit truk container tiba di Pelabuhan Malahayati: Amatan ATJEHPOSTcom, truk tersebut tiba di Pelabuhan Mal... http://t.co/RfAwTxnpOn
- 17/05/2013 8:56 PM600 ton gula pasir masuk ke Aceh lewat Pelabuhan Malahayati: Kran peti kemas Pelabuhan Malahayati akan didatan... http://t.co/xBdFQkkFmQ
- 17/05/2013 8:07 PMBPBD Simeulue: Masa tanggap darurat banjir telah dicabut: Untuk menentukan berapa lama masa pemulihan, kata Al... http://t.co/UMJgTafjYr
- 17/05/2013 8:07 PMEkses banjir di Simeulue, ratusan meter badan jalan amblas: “Badan jalan yang terparah amblas dan longsor terj... http://t.co/vH0No064Xy
- 17/05/2013 8:07 PMBanjir Simeulue rendam 1.280 unit rumah warga: Sembilan rumah di Gampong Suak Lamatan Kecamatan Teupah Selatan... http://t.co/t6xbVEybOB
- 17/05/2013 8:07 PMBPBD: Korban banjir di Simeulue capai 6.060 jiwa: “Hasil pemutakhiran data pada hari ini dan telah kita lapork... http://t.co/byOoimMHWz
- 17/05/2013 8:07 PMDenmark larang anak-anak makan produk olahan beras: Selain melarang, lembaga itu juga sedang meneliti produk o... http://t.co/ydaWbdsOK7
- 17/05/2013 7:53 PMGlobal | Atjehpost | Denmark larang anak-anak makan produk olahan beras http://t.co/VzXPAmsRpA via @sharethis
- 17/05/2013 7:22 PMSamsung Galaxy S4, smartphone pertama yang lulus sertifikasi TCO: Pencapaian fantastis dari Samsung Galaxy S4 ... http://t.co/8Msp8luODH
- 17/05/2013 7:22 PMBPBD rilis nama 40 gampong Simeuleu yang dilanda banjir: Data tersebut dilansir ATJEHPOSTcom dari data resmi B... http://t.co/SeZOwrzS6z
- 17/05/2013 7:22 PMAliansi Mahasiswa Pijay minta penegak hukum tindak pemalsu data honorer K2: DPRK menyatakan 105 orang honorer ... http://t.co/bmTKSSyqHW
- 17/05/2013 7:22 PMSengatan listrik pada otak tingkatkan kemampuan matematik: Percaya tidak percaya, cara ini diklaim ampuh meran... http://t.co/nJF992ePhN
- 17/05/2013 7:22 PMBesok Suzuki luncurkan Ertiga Matic di Banda Aceh: Di acara tersebut juga dilakukan wisuda Suzuki Sales Academ... http://t.co/sW0Uru6j8x
Hilversum vs Radio Rimba Raya
Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
ILUSTRASI
Dalam sejarah perjuangan Indonesia, sudah jelas Serangan Umum 1 Maret
1949 akan tidak ada jika Belanda tak melancarkan agresi keduanya.
Setelah agresi militer jilid II Belanda berhasil menguasai Yogyakarta
pada 19 Desember 1948, Republik Indonesia yang baru seumur jagung itu
linglung.
Presiden dan Wakil Presiden dengan segenap pembesar revolusi lainnya ditawan. Saat itu Indonesia memang benar-benar dalam keadaan rawan.
Untung saja, walaupun kondisi negara sedang di ujung tanduk, sebelum tentara Belanda belum sempat masuk; Panglima Besar Soedirman yang dalam keadaan sakit melapor ke Presiden. Setelah itu ia mengumumkan perintah singkat ke seluruh Indonesia.
Itu pesan di siar melalui radio saja. Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
Empat butir perintah singkat, yaitu: 1. Kita telah diserang, 2. Pada tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata, 4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk mengahadapi serangan musuh.
Pesan ini akhirnya sampai juga ke telinga pejuang-pejuang di Aceh. Mereka menyebarkannya ke segala penjuru. Agar angkatan perang, rakyat yang rela berjuang mesti siap-siap. Mesti cepat tanggap.
Sementara sebelum ditawan, Soekarno, Mohd. Hatta, Syahrir dan beberapa pembesar lainnya telah mengirimkan dua kawat. Satu ke Sumatera, tempat Dr. Sjafruddin Prawiranegara melakukan kunjungan kerja, satunya lagi ke India. Di India, Dr. Soedarsono, Dubes RI untuk India, L.N Palar, staf kedutaan, dan A. A. Maramis, Menteri Keuangan sedang dalam usaha lobi politik.
Inti kedua kawat tersebut untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Agar di mata dunia, walaupun ibukota Yogyakarta telah diduduki agressor, Republik Indonesia tetap saja masih ada.
Tapi zaman perang dipenuhi propaganda. Pada zaman penuh desing peluru itu, Belanda sangat gencar berpropaganda. Gencar membolak-balikkan haba.
Melalui siaran radionya, Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau dikenal orang ramai dengan sebutan Hilversum, berkabar bahwa Indonesia telah tamat. Berita itu sekejap tersiar setelah angkatan perangnya berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan para pembesar negara. Dunia pun hampir saja percaya.
Di Aceh, para pejuang bertindak cepat. Serangan melalui media harus dibalas dengan media. Itu makanya perangkat radio beserta alat pemancarnya, tanggal 20 Desember 1948 diangkut diam-diam. Dari Banda Aceh ke Rime Raya. Kawasan hutan belantara di dataran Gayo sana.
Hingga dalam keadaan yang serba genting, Radio Rimba Raya pun buka suara. Ada banyak catatan berbeda tentang tanggal berapa mulai pertama siarannya. Yang jelas, corongnya sampai juga ke negara-negara tetangga. Bahkan dengan bantuan relay radio-radio negara luar, suara Indonesia sampai juga ke negara-negara Eropa.
“Republik Indonesia masih ada. Karena pemimpin Republik Indonesia masih ada. Tentara Republik masih ada. Pemerintah republik masih ada. Wilayah republik masih ada. Dan di sini adalah Aceh.”*
Sampai di sini, dunia tergugah. Di India, Konferensi Asia untuk membicarakan status Republik Indonesia digelar dan diikuti 19 negara. Hasilnya? Satu dari sekian butir-butir konferensi berbunyi: Belanda harus angkat kaki dari tanah Republik Indonesia.
Zaman itu Hilversum kalah. Propagandanya tidak mempan membenamkan Indonesia. Radio Rimba Raya yang letaknya jauh di pedalaman Aceh terus mengudara. Sampai dunia tergugah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Sekarang, Radio Rimba Raya hanya ditemukan dalam buku sejarah. Tugunya tegak berdiri. Tapi siarannya nihil. Sementara Hilversum yang sempat dikalahkan isunya itu masih saja mengudara dalam media dengar dunia. Jika tak dihidupkan lagi, mungkin tidak aneh kalau sejarah Radio Rimba Raya hanya akan dianggap mitos belaka. Tragis betul!
*Ilustrasi dalam film dokumenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya, karya Ikmal Gopi.
Sumber : berdasarkan bacaan-bacaan buku sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Presiden dan Wakil Presiden dengan segenap pembesar revolusi lainnya ditawan. Saat itu Indonesia memang benar-benar dalam keadaan rawan.
Untung saja, walaupun kondisi negara sedang di ujung tanduk, sebelum tentara Belanda belum sempat masuk; Panglima Besar Soedirman yang dalam keadaan sakit melapor ke Presiden. Setelah itu ia mengumumkan perintah singkat ke seluruh Indonesia.
Itu pesan di siar melalui radio saja. Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
Empat butir perintah singkat, yaitu: 1. Kita telah diserang, 2. Pada tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata, 4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk mengahadapi serangan musuh.
Pesan ini akhirnya sampai juga ke telinga pejuang-pejuang di Aceh. Mereka menyebarkannya ke segala penjuru. Agar angkatan perang, rakyat yang rela berjuang mesti siap-siap. Mesti cepat tanggap.
Sementara sebelum ditawan, Soekarno, Mohd. Hatta, Syahrir dan beberapa pembesar lainnya telah mengirimkan dua kawat. Satu ke Sumatera, tempat Dr. Sjafruddin Prawiranegara melakukan kunjungan kerja, satunya lagi ke India. Di India, Dr. Soedarsono, Dubes RI untuk India, L.N Palar, staf kedutaan, dan A. A. Maramis, Menteri Keuangan sedang dalam usaha lobi politik.
Inti kedua kawat tersebut untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Agar di mata dunia, walaupun ibukota Yogyakarta telah diduduki agressor, Republik Indonesia tetap saja masih ada.
Tapi zaman perang dipenuhi propaganda. Pada zaman penuh desing peluru itu, Belanda sangat gencar berpropaganda. Gencar membolak-balikkan haba.
Melalui siaran radionya, Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau dikenal orang ramai dengan sebutan Hilversum, berkabar bahwa Indonesia telah tamat. Berita itu sekejap tersiar setelah angkatan perangnya berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan para pembesar negara. Dunia pun hampir saja percaya.
Di Aceh, para pejuang bertindak cepat. Serangan melalui media harus dibalas dengan media. Itu makanya perangkat radio beserta alat pemancarnya, tanggal 20 Desember 1948 diangkut diam-diam. Dari Banda Aceh ke Rime Raya. Kawasan hutan belantara di dataran Gayo sana.
Hingga dalam keadaan yang serba genting, Radio Rimba Raya pun buka suara. Ada banyak catatan berbeda tentang tanggal berapa mulai pertama siarannya. Yang jelas, corongnya sampai juga ke negara-negara tetangga. Bahkan dengan bantuan relay radio-radio negara luar, suara Indonesia sampai juga ke negara-negara Eropa.
“Republik Indonesia masih ada. Karena pemimpin Republik Indonesia masih ada. Tentara Republik masih ada. Pemerintah republik masih ada. Wilayah republik masih ada. Dan di sini adalah Aceh.”*
Sampai di sini, dunia tergugah. Di India, Konferensi Asia untuk membicarakan status Republik Indonesia digelar dan diikuti 19 negara. Hasilnya? Satu dari sekian butir-butir konferensi berbunyi: Belanda harus angkat kaki dari tanah Republik Indonesia.
Zaman itu Hilversum kalah. Propagandanya tidak mempan membenamkan Indonesia. Radio Rimba Raya yang letaknya jauh di pedalaman Aceh terus mengudara. Sampai dunia tergugah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Sekarang, Radio Rimba Raya hanya ditemukan dalam buku sejarah. Tugunya tegak berdiri. Tapi siarannya nihil. Sementara Hilversum yang sempat dikalahkan isunya itu masih saja mengudara dalam media dengar dunia. Jika tak dihidupkan lagi, mungkin tidak aneh kalau sejarah Radio Rimba Raya hanya akan dianggap mitos belaka. Tragis betul!
*Ilustrasi dalam film dokumenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya, karya Ikmal Gopi.
Sumber : berdasarkan bacaan-bacaan buku sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
- 17/05/2013 9:43 PMSong bogem Pique saat Barca rayakan juara La Liga: Victor Valdes dan Carles Puyol tampak ingin melerai kedua s... http://t.co/WAUVkPxix7
- 17/05/2013 9:43 PM23 Pria Afrika Selatan tewas setelah disunat: Polisi hingga kini belum menangkap tersangka dan masih menunggu ... http://t.co/UcAitgXeDG
- 17/05/2013 9:43 PMHanya 6 item yang diperlombakan di PKA 6: Rapat para kepala dinas kabupaten dan kota se-Aceh, kata dia, digela... http://t.co/kCNUUzncdF
- 17/05/2013 9:43 PMSharapova mundur dari Turnamen Roma Masters?: Sharapova tampil meyakinkan saat dia mengalahkan Sloane Stephens... http://t.co/UTOT4x7PcG
- 17/05/2013 8:56 PMLagi, Pedrosa kuasai Sirkuit Le Mans: Marc Marques mampu memperbaiki catatan waktu hingga mampu menempati posisi dua. http://t.co/P5OKgNisuZ
- 17/05/2013 8:56 PMNexus 4 warna putih muncul bulan depan?: Nexus 4 berwarna putih ini sebelumnya juga pernah muncul menyusul rum... http://t.co/5oqb61A7KK
- 17/05/2013 8:56 PMTiga instansi di Simeulue belum serahkan data kerugian bencana alam: Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kela... http://t.co/OtX0yhrtYK
- 17/05/2013 8:56 PMDua unit truk container tiba di Pelabuhan Malahayati: Amatan ATJEHPOSTcom, truk tersebut tiba di Pelabuhan Mal... http://t.co/RfAwTxnpOn
- 17/05/2013 8:56 PM600 ton gula pasir masuk ke Aceh lewat Pelabuhan Malahayati: Kran peti kemas Pelabuhan Malahayati akan didatan... http://t.co/xBdFQkkFmQ
- 17/05/2013 8:07 PMBPBD Simeulue: Masa tanggap darurat banjir telah dicabut: Untuk menentukan berapa lama masa pemulihan, kata Al... http://t.co/UMJgTafjYr
- 17/05/2013 8:07 PMEkses banjir di Simeulue, ratusan meter badan jalan amblas: “Badan jalan yang terparah amblas dan longsor terj... http://t.co/vH0No064Xy
- 17/05/2013 8:07 PMBanjir Simeulue rendam 1.280 unit rumah warga: Sembilan rumah di Gampong Suak Lamatan Kecamatan Teupah Selatan... http://t.co/t6xbVEybOB
- 17/05/2013 8:07 PMBPBD: Korban banjir di Simeulue capai 6.060 jiwa: “Hasil pemutakhiran data pada hari ini dan telah kita lapork... http://t.co/byOoimMHWz
- 17/05/2013 8:07 PMDenmark larang anak-anak makan produk olahan beras: Selain melarang, lembaga itu juga sedang meneliti produk o... http://t.co/ydaWbdsOK7
- 17/05/2013 7:53 PMGlobal | Atjehpost | Denmark larang anak-anak makan produk olahan beras http://t.co/VzXPAmsRpA via @sharethis
- 17/05/2013 7:22 PMSamsung Galaxy S4, smartphone pertama yang lulus sertifikasi TCO: Pencapaian fantastis dari Samsung Galaxy S4 ... http://t.co/8Msp8luODH
- 17/05/2013 7:22 PMBPBD rilis nama 40 gampong Simeuleu yang dilanda banjir: Data tersebut dilansir ATJEHPOSTcom dari data resmi B... http://t.co/SeZOwrzS6z
- 17/05/2013 7:22 PMAliansi Mahasiswa Pijay minta penegak hukum tindak pemalsu data honorer K2: DPRK menyatakan 105 orang honorer ... http://t.co/bmTKSSyqHW
- 17/05/2013 7:22 PMSengatan listrik pada otak tingkatkan kemampuan matematik: Percaya tidak percaya, cara ini diklaim ampuh meran... http://t.co/nJF992ePhN
- 17/05/2013 7:22 PMBesok Suzuki luncurkan Ertiga Matic di Banda Aceh: Di acara tersebut juga dilakukan wisuda Suzuki Sales Academ... http://t.co/sW0Uru6j8x
Hilversum vs Radio Rimba Raya
Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
ILUSTRASI
Dalam sejarah perjuangan Indonesia, sudah jelas Serangan Umum 1 Maret
1949 akan tidak ada jika Belanda tak melancarkan agresi keduanya.
Setelah agresi militer jilid II Belanda berhasil menguasai Yogyakarta
pada 19 Desember 1948, Republik Indonesia yang baru seumur jagung itu
linglung.
Presiden dan Wakil Presiden dengan segenap pembesar revolusi lainnya ditawan. Saat itu Indonesia memang benar-benar dalam keadaan rawan.
Untung saja, walaupun kondisi negara sedang di ujung tanduk, sebelum tentara Belanda belum sempat masuk; Panglima Besar Soedirman yang dalam keadaan sakit melapor ke Presiden. Setelah itu ia mengumumkan perintah singkat ke seluruh Indonesia.
Itu pesan di siar melalui radio saja. Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
Empat butir perintah singkat, yaitu: 1. Kita telah diserang, 2. Pada tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata, 4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk mengahadapi serangan musuh.
Pesan ini akhirnya sampai juga ke telinga pejuang-pejuang di Aceh. Mereka menyebarkannya ke segala penjuru. Agar angkatan perang, rakyat yang rela berjuang mesti siap-siap. Mesti cepat tanggap.
Sementara sebelum ditawan, Soekarno, Mohd. Hatta, Syahrir dan beberapa pembesar lainnya telah mengirimkan dua kawat. Satu ke Sumatera, tempat Dr. Sjafruddin Prawiranegara melakukan kunjungan kerja, satunya lagi ke India. Di India, Dr. Soedarsono, Dubes RI untuk India, L.N Palar, staf kedutaan, dan A. A. Maramis, Menteri Keuangan sedang dalam usaha lobi politik.
Inti kedua kawat tersebut untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Agar di mata dunia, walaupun ibukota Yogyakarta telah diduduki agressor, Republik Indonesia tetap saja masih ada.
Tapi zaman perang dipenuhi propaganda. Pada zaman penuh desing peluru itu, Belanda sangat gencar berpropaganda. Gencar membolak-balikkan haba.
Melalui siaran radionya, Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau dikenal orang ramai dengan sebutan Hilversum, berkabar bahwa Indonesia telah tamat. Berita itu sekejap tersiar setelah angkatan perangnya berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan para pembesar negara. Dunia pun hampir saja percaya.
Di Aceh, para pejuang bertindak cepat. Serangan melalui media harus dibalas dengan media. Itu makanya perangkat radio beserta alat pemancarnya, tanggal 20 Desember 1948 diangkut diam-diam. Dari Banda Aceh ke Rime Raya. Kawasan hutan belantara di dataran Gayo sana.
Hingga dalam keadaan yang serba genting, Radio Rimba Raya pun buka suara. Ada banyak catatan berbeda tentang tanggal berapa mulai pertama siarannya. Yang jelas, corongnya sampai juga ke negara-negara tetangga. Bahkan dengan bantuan relay radio-radio negara luar, suara Indonesia sampai juga ke negara-negara Eropa.
“Republik Indonesia masih ada. Karena pemimpin Republik Indonesia masih ada. Tentara Republik masih ada. Pemerintah republik masih ada. Wilayah republik masih ada. Dan di sini adalah Aceh.”*
Sampai di sini, dunia tergugah. Di India, Konferensi Asia untuk membicarakan status Republik Indonesia digelar dan diikuti 19 negara. Hasilnya? Satu dari sekian butir-butir konferensi berbunyi: Belanda harus angkat kaki dari tanah Republik Indonesia.
Zaman itu Hilversum kalah. Propagandanya tidak mempan membenamkan Indonesia. Radio Rimba Raya yang letaknya jauh di pedalaman Aceh terus mengudara. Sampai dunia tergugah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Sekarang, Radio Rimba Raya hanya ditemukan dalam buku sejarah. Tugunya tegak berdiri. Tapi siarannya nihil. Sementara Hilversum yang sempat dikalahkan isunya itu masih saja mengudara dalam media dengar dunia. Jika tak dihidupkan lagi, mungkin tidak aneh kalau sejarah Radio Rimba Raya hanya akan dianggap mitos belaka. Tragis betul!
*Ilustrasi dalam film dokumenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya, karya Ikmal Gopi.
Sumber : berdasarkan bacaan-bacaan buku sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Presiden dan Wakil Presiden dengan segenap pembesar revolusi lainnya ditawan. Saat itu Indonesia memang benar-benar dalam keadaan rawan.
Untung saja, walaupun kondisi negara sedang di ujung tanduk, sebelum tentara Belanda belum sempat masuk; Panglima Besar Soedirman yang dalam keadaan sakit melapor ke Presiden. Setelah itu ia mengumumkan perintah singkat ke seluruh Indonesia.
Itu pesan di siar melalui radio saja. Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
Empat butir perintah singkat, yaitu: 1. Kita telah diserang, 2. Pada tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata, 4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk mengahadapi serangan musuh.
Pesan ini akhirnya sampai juga ke telinga pejuang-pejuang di Aceh. Mereka menyebarkannya ke segala penjuru. Agar angkatan perang, rakyat yang rela berjuang mesti siap-siap. Mesti cepat tanggap.
Sementara sebelum ditawan, Soekarno, Mohd. Hatta, Syahrir dan beberapa pembesar lainnya telah mengirimkan dua kawat. Satu ke Sumatera, tempat Dr. Sjafruddin Prawiranegara melakukan kunjungan kerja, satunya lagi ke India. Di India, Dr. Soedarsono, Dubes RI untuk India, L.N Palar, staf kedutaan, dan A. A. Maramis, Menteri Keuangan sedang dalam usaha lobi politik.
Inti kedua kawat tersebut untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Agar di mata dunia, walaupun ibukota Yogyakarta telah diduduki agressor, Republik Indonesia tetap saja masih ada.
Tapi zaman perang dipenuhi propaganda. Pada zaman penuh desing peluru itu, Belanda sangat gencar berpropaganda. Gencar membolak-balikkan haba.
Melalui siaran radionya, Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau dikenal orang ramai dengan sebutan Hilversum, berkabar bahwa Indonesia telah tamat. Berita itu sekejap tersiar setelah angkatan perangnya berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan para pembesar negara. Dunia pun hampir saja percaya.
Di Aceh, para pejuang bertindak cepat. Serangan melalui media harus dibalas dengan media. Itu makanya perangkat radio beserta alat pemancarnya, tanggal 20 Desember 1948 diangkut diam-diam. Dari Banda Aceh ke Rime Raya. Kawasan hutan belantara di dataran Gayo sana.
Hingga dalam keadaan yang serba genting, Radio Rimba Raya pun buka suara. Ada banyak catatan berbeda tentang tanggal berapa mulai pertama siarannya. Yang jelas, corongnya sampai juga ke negara-negara tetangga. Bahkan dengan bantuan relay radio-radio negara luar, suara Indonesia sampai juga ke negara-negara Eropa.
“Republik Indonesia masih ada. Karena pemimpin Republik Indonesia masih ada. Tentara Republik masih ada. Pemerintah republik masih ada. Wilayah republik masih ada. Dan di sini adalah Aceh.”*
Sampai di sini, dunia tergugah. Di India, Konferensi Asia untuk membicarakan status Republik Indonesia digelar dan diikuti 19 negara. Hasilnya? Satu dari sekian butir-butir konferensi berbunyi: Belanda harus angkat kaki dari tanah Republik Indonesia.
Zaman itu Hilversum kalah. Propagandanya tidak mempan membenamkan Indonesia. Radio Rimba Raya yang letaknya jauh di pedalaman Aceh terus mengudara. Sampai dunia tergugah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Sekarang, Radio Rimba Raya hanya ditemukan dalam buku sejarah. Tugunya tegak berdiri. Tapi siarannya nihil. Sementara Hilversum yang sempat dikalahkan isunya itu masih saja mengudara dalam media dengar dunia. Jika tak dihidupkan lagi, mungkin tidak aneh kalau sejarah Radio Rimba Raya hanya akan dianggap mitos belaka. Tragis betul!
*Ilustrasi dalam film dokumenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya, karya Ikmal Gopi.
Sumber : berdasarkan bacaan-bacaan buku sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Comments
Post a Comment