Geureugui, Memoar Sebilah Pantai Di Meureudu
Dulu, sewaktu diajak ayah tarek pukat (menarik pukat) di pantai yang letaknya tak jauh dari belakang rumah, Geureugui adalah teman main kami yang paling setia. Yang tak pernah bosan dan tak pernah mengenal penat berlarian ke sana kemari saat kami kejar hingga membuat kami tersengal-sengal. Atau pada waktu yang lain, ketika musim Bungkueh (teri nasi) tiba dan orang-orang di kampung kami menjaringnya dengan menggunakan kelambu, Geureugui tetap saja menjadi guru terbaik kami dalam belajar bagaimana bisa cepat berlari, lincah mengelak, gesit mengecoh. Kelak ketika kami beranjak remaja, kami menjadikan ilmu pengetahuan ini sebagai modal dasar bermain sepakbola dalam turnamen tujuhbelasan di lapangan ibukota kecamatan.
Tapi pernah juga kami mengalami tahun-tahun tanpa Geureugui. Itu tahun-tahun ketika Marinir mulai mengkapling pantai kami dengan pagar-pagar posnya yang angker untuk dilalui. Maka pada tahun-tahun itu, bermain di bibir pantai adalah tabu terbaru dari emak atau ayah ketika hendak bermain di luar rumah. Dan kami yang masih bocah, yang belum mengerti kenapa harus ada letup senjata, jam malam atau suasana mencekam mulai meninggalkan pantai tanpa banyak tanya. Kini kami beralih ke sungai sebagai tempat main yang tak kalah asyiknya dengan bibir pantai.

Itulah tahun-tahun di mana pantai berubah menjadi sunyi. Di mana salah satu puncak segala kesunyiannya adalah paska ditembaknya tiga nelayan oleh tentara pada sebuah Jum'at yang tanggal dan bulannya alpa kami tandai. Maka pantai terasa semakin jauh bagi kami. Atau memang kamilah yang sengaja menjauhinya. Meninggalkan kawanan Geureugui kehilangan teman mainnya yang tengil, jahat, dan tentu saja sangat mengganggu. Tapi kami tahu saat itu mereka tetap memendam rindu.[]
Comments
Post a Comment