Makna Sastra
![]() |
coretan pena di ruang kuliah, Feb. 2012 |
Bermula jikalau engkau ditanyai orang kenapa sastra dibutuhkan dunia? Kau
boleh jawab tidak semua realita, tidak semua fakta dan tidak semua
berita bisa dimaknai dengan akal logika. Sebab, sungguh dunia ini penuh
dengan tamsilan, perumpamaan, imaginary, dan lain sebagainya, hingga memungkinkan sastra itu ada. Namun, setelah kau jawab begitu rupa, dan seseorang menanyakan kembali rujukan mana jawaban
itu punya pasal?
Kau sebutlah, di zaman yang serba apatis ini,
orang-orang tak lagi hidup sebab rujukan. Selama ia pernah
menggunakan akal, otak serta hati dalam beberapa masalah dengan baik dan benar. Jika ditanyai kembali tentang standar baik dan
benar.
Kau tukas saja, "Baik dan
benar adalah perilaku yang manakala ia dirujuk
atau diteladani orang, para perujuk dijamin tak merasa
berdosa, dan tak akan membuatnya gila sebagai bentuk penderitaan dunia." Maka jikalau engkau dicemoohi sebab jawaban yang tak dapat dipegang ini. Senyumlah dalam hati, sembari beranjak ke suatu tempat yang rada-rada
sepi. Di sana, kau simaklah nyanyian alam dengan penuh kepekaan panca
indera. Kau seraplah itu nyanyian dengan hati yang bajik tanpa mengandung sifat sirik sambil menyapu isi kepala dari pikiran munafik.
Saat seperti ini, sungguh, akan kau rasakan betapa
harmoni alam telah menghasilkan banyak puisi. Sejatinya puisi. Bukan puisi yang tercipta saat penyair buang hajat. Tapi puisi yang ketika kau baca serupa batang sungai yang mengalir air jernih ditimpal batu-batu pipih.
Yang
jelas, sastra bukan hanya masalah bagaimana kau lihai mengatur huruf
jadi kata, jadi kalimat, jadi paragraf, jadi cerita, dan seterusnya.
Sastra dibentuk oleh laku otak, akal, hati dan nurani. Barangkali kau
mengerti apa yang kumaksudkan di sini.
Comments
Post a Comment