Maka di kampuslah kau bisa menimbang-nimbang isi kepala yang kau punya. Argumen-argumen yang kau paparkan kerap pupus oleh aduan argumen lain dari seorang teman sekelas dan juga dosen. Di kampus pulalah kau bisa menyejajarkan bahu dengan orang-orang (banyaknya merasa diri) berwawasan luas, banyak baca buku, paham pelbagai teori, untuk kemudian kau keluar dari ruang kuliah dalam keadaan was-was. Kau mendapati diri antara mengerti atau tidak; bahwa teori-teori yang kau pahami selama ini tidak sesuai dengan kerangka kurikulum misalnya. Bahwa kurikulum telah cukup berhasil membantu teman-teman sekelas untuk mengungkungkan diri dalam teori-teori tinggi tapi tak pernah bisa membumi ketika kau terapkan di meja-meja kedai kopi. Sabtu, 20 September 2014, pagi-pagi sekali aku bangun, mandi, pakai shampo, sabun, dan gosok gigi. Kemudian dengan gegas berpakaian rapi. Ada kelas di kampus yang mesti kuhadiri setelah dua tahun sebelumnya kutinggalkan begitu saja. Kupacu sepeda motor dari Emperom...
semoga para syuhada dalam peritiwa tersebut di berikan tempat terbaik dengan jannah yang berlimpah berkah
ReplyDeleteSudah 6 tahun sudah kejadian tsunami tdk akan pernah hilang dari benak indonesia
ReplyDelete